Pasukan dewangga yang merupakan gabungan pasukan dari 6 kerajaan yang akan menyerang kerajaan Kuntala terdengar kabarnya oleh Bongkeng dan Mantili. Mantili yang memang sudah mengetahui rencana penyerangan tersebut tidaklah terkejut dengan betapa besarnya pasukan dewangga yang dilaporkan oleh Bongkeng.

Mantili kemudian berniat untuk bergabung untuk menyerang atau bergabung berperang namun dengan caranya sendiri. Hal itu ia katakan kepada Bongkeng. Bongkeng terkejut dan ia tak ingin Mantili membubarkan partai Pedang Setan yang sudah kian besar dan ditakuti.

Butuh Jasa Pembuatan Website Berpengalaman? Simple C Sudah Sejak 2007 Memberikan Layanan Pembuatan Website. Harga Terjangkau, Mulai Dari 299 Ribu [Info Lengkap]

Namun Mantili menyakinkan Bongkeng bahwa ia adalah senopati Gusti Ayu Mantili yang mempunyai tugas dan kewajiban terhadap kerajaan dimana ia mengabdi. Ia berubah perangai menjadi kejam dan beringas lantaran patah hati atas terhadap seseorang yang ia cintai.

Mantili menyarankan agar tempat ia tinggal, istana pedang setan diubah menjadi panti asuhan bagi anak-anak yatim dan hartanya disumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Akhirnya Bongkengpun paham dan ia bersama 20 orang dari kelompok pedang setan setuju untuk bergabung bersama Mantili pergi untuk membebaskan maharaja Kuntala yang diasingkan pulau belibis.

Bagaimana kisah lengkapnya? Simak dalam video ini

Tokoh Pahlawan Indonesia yang Diasingkan pada masa Penjajahan

Lantaran keberanian para pahlawan dalam melawan pihak penjajah, maka merekapun diasingkan di suatu pulau. Hal tersebut dimaksudkan untuk membungkam keberanian mereka dan mempersempit ruang gerak mereka.

Berikut ini 3 tokoh pahlawan Indonesia yang diasingkan pada masa penjajahan Belanda

Tuanku Imam Bonjol

Nama asli dari Tuanku Imam Bonjol adalah Muhammad Shahab, lahir di Bonjol pada 1 Januari 1772. Merupakan putra dari pasangan Bayanuddin Shahab dan Hamatun. Ia dikenal sebagai pemimpin gerakan dakwah di Sumatera yang menentang penjajahan Belanda.

Ketika terjadi pertentangan antara kaum Adat dan kaum Paderi (sebutan untuk kaum ulama), Tuanku Imam Bonjol ikut terlibat didalamnya. Dengan bantuan Belanda, Tuanku Imam Bonjol akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Cianjur. Ia juga sempat dipindahkan ke Ambon dan terakhir ke Lotak, Minahasa. Di Lotak inilah ia wafat dalam usia 92 tahun.

Pangeran Hidayatullah dari Banjarmasin

Sultan Hidayatullah Halil illah bin Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman lebih dikenal sebagai pangeran Hidayatullah atau Hidayatullah II, lahir di Martapura,1822.

Pangeran Hidayatullah adalah Sultan Banjar yang ditangkap oleh penjajah Belanda dengan tipu muslihat. Selanjutnya ia diasingkan bersama dengan anggota keluarga dan pengiringnya ke Cianjur. Di sana dia tinggal dalam suatu pemukiman yang sekarang dinamakan Kampung Banjar/Gang Banjar. Sultan Hidayatullah wafat dan dimakamkan di Cianjur dalam usia 82 tahun.

Cut Nyak Dhien

Ia adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh. Cut Nyak Dhien dilahirkan pada tahun 1848. Wafatnya sang suami yang bernama Gle Tarum tanggal 29 Juni 1878 menyebabkan Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah hendak menghancurkan Belanda.

Ia ditangkap dan diasingkan oleh penjajah Belanda ke Sumedang hingga ia wafat. Di tempat ia diasingkan, tak ada seorang pun yang mengenal identitasnya hingga ia wafat. Saat itu ia sudah tua dan menderita penyakit encok. Masyarakat sekitar hanya mengenalnya sebagai sosok tua yang taat beragama.

Katagori