Di era tahun 80 an memang teknologi hiburan belumlah seperti sekarang ini. Media hiburan masih terbatas televisi dan radio. Meskipun televisi sudah ada namun belum banyak masyarakat yang memilikinya dan acara televisi pun belum bervariasi seperti saat ini.

Channel yang ada pun masih terbatas TVRI. Oleh karena itu, masyarakat melirik radio sebagai sarana hiburan yang dapat diandalkan. Terlebih tahun 80 an mulai diperdengarkan serial sandiwara radio berjudul Saur Sepuh yang mengisahkan tentang sepak terjang tokoh pendekar di dunia persilatan yang bernama Brama Kumbara yang kelak menjadi raja kerajaan Madangkara.

Butuh Jasa Pembuatan Website Berpengalaman? Simple C Sudah Sejak 2007 Memberikan Layanan Pembuatan Website. Harga Terjangkau, Mulai Dari 299 Ribu [Info Lengkap]

Dan serial sandiwara radio tersebut pun booming. Masyarakat menjadi pendengar radio sejati yang setia menanti serial sandiwara tersebut. Para pengisi suaranya menjadi tenar dan banyak digemari masyarakat. Nama-nama mereka masih terkenang hingga kini. Sebut saja Fery Fadli yang berperan sebagai Brama Kumbara dan Elly Ermawati yang memerankan Mantili.

Kini, mari kita bernostalgia mendengarkan serial sandiwara radio Saur Sepuh. Kisahnya bisa didengarkan di sini.

 

Raja-raja Kerajaan di Pulau Jawa

Pulau Jawa merupakan pulau di nusantara yang memiliki banyak kerajaan. Berikut ini adalah raja-raja yang pernah memerintah kerajaan di pulau Jawa. Nama mereka masih dikenal hingga kini, bahkan banyak yang dijadikan sebagai nama jalan di kota-kota besar guna tetap mengingat nama mereka.

 

Ken Arok

Juga disebut dengan Ken Angrok merupakan pendiri kerajaan Tumapel (kemudian dikenal dengan nama Singhasari). Ia menjadi raja pertama di kerajaan tersebut dengan gelar Sri Rajasa san Amurwabhumi yang memerintah pada tahun 1222 – 1227 (atau 1247).

Ken Arok mendirikan kerajaan Tumapel setelah membunuh Tunggul Ametung (penguasa wilayah Tumapel yang saat itu masih termasuk wilayah bawahan kerajaan Kadiri). Ia membunuh Tunggul Ametung dan selanjutnya menikahi Ken Dedes, isteri Tunggul Ametung.

Ia membunuh Tunggul Ametung dengan keris yang ia pesan pada Mpu Gandring. Namun ketika keris belum selesai dikerjakan, keris tersebut diambilnya dan langsung dihunuskan ke dada Mpu Gandring hingga tewas. Mpu Gandring mengutuk bahwa keris tersebut akan membunuh 7 orang raja termasuk Ken Arok dan keturunannya.

 

Hayam Wuruk

Ia merupakan raja ke empat dari kerajaan Majapahit dan mencapai kejayaannya ketika ia memerintah dari 1350-1389. Ia bergelar Maharaja Sri Rajasanagara.

Arti dari nama Hayam Wuruk adalah ayam yang terpelajar. Ia adalah anak dari pasangan Tribhuwana Tunggadewi dan Sri Kertawardhana alias Cakradhara. Ibunya adalah putri Raden Wijaya pendiri Majapahit, sedangkan ayahnya adalah raja bawahan di Singhasari bergelar Bhre Tumapel.

Di masa pemerintahannya, Majapahit berhasil menaklukkan kerajaan Pasai dan Aru. Pada masa pemerintahannya juga, kitab Kakawin Sutasoma (yang berisi semboyan Bhinneka Tunggal Ika tan Hana Dharma Mangrwa) digubah oleh Mpu Tantular, dan kitab Nagarakretagama digubah oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365.

 

Rakai Panangkaran

Merupakan raja kedua kerajaan Medang (disebut juga sebagai kerajaan Mataram kuno) yang memerintah sekitar tahun 770 an. Saat itu mulai didirikan candi-candi di sekitar dataran Prambanan seperti candi Boko dan candi Sewu.

Raja yang memerintah sebelumnya adalah Sanjaya. Disebabkan oleh minimnya data-data yang tersedia, mengakibatkan adanya perbedaan pendapat mengenai asal usul Rakai Panangkaran.

Katagori